Kisah Tukang Cobek yang Gugat Polisi Rp1 Miliar karena jadi Korban Salah Tangkap

 


Sosok Tajudin sempat menjadi sorotan pada 2016 silam karena dikenai tuduhan mempekerjakan dua anak bernama Dendi dan Cepi untuk berjualan. Pasal yang dikenakan tak main-main, yakni UU Tindak Pidana Perdagangan Orang (TPPO) jo UU Perlindungan Anak. Tuduhan mengeksploitasi anak pun dialamatkan pada dirinya.

Tajudin yang merasa tidak bersalah pun akhirnya hanya bisa pasrah menerima hukuman yang ada. Dinginnya terali penjara ia rasakan selama 9 bulan lamanya. Usai dibebaskan, Tajudin kini mencari keadilan atas penahanan yang dialaminya pada 2016 silam. Selengkapnya, simak ulasan Boombastis berikut ini.

Menggugat polisi Rp1 miliar atas peristiwa yang menimpanya pada 2016 silam

Tajudin diketahui telah melayangkan gugatan kepada pihak Polres Tangerang Selatan (Tangsel) dan Kejaksaan Negeri Tangerang Selatan yang didaftarkan ke Pengadilan Negeri (PN) Tangerang. Tak kepalang tanggung, nominal yang diajukan sebesar Rp1,032 miliar. Pengacara Tajuddin dari LBH Keadilan, Saka Murti Dwi Sutrisna, yang dikutip dari Detik (21/09/2020) mengatakan, gugatan tersebut telah didaftarkan ke melalui Pengadilan Negeri Kota Tangerang.

Rincian jumlah gugatan yang diajukan oleh Tajudin

Jika dirinci satu persatu, kerugian yang harus diganti adalah kehilangan penghasilan akibat ditahan selama 9 bulan sebesar Rp27 juta dengan asumsi nilai pendapatan per bulan Rp3 juta. Lalu ada barang dagangan berupa cobek berjumlah 91 buah yang tidak bisa dijual senilai Rp2,7 juta. Terakhir, kerugian imateriil sebesar Rp1 miliar atau setidaknya Rp100 juta menurut undang-undang yang berlaku.

Kerugian imateriil diajukan karena membuat dirinya menderita banyak kesusahan

Besarnya nominal kerugian secara imateriil yang diajukan, lantaran Tajudin telah banyak mengalami kerugian yang menghambat dirinya mencari nafkah. Mulai dari nama baik dan martabatnya tercemar, menderita secara psikis, hingga menyisakan beban mental pada keluarganya setelah ia ditahan selama 9 bulan lamanya. Polres Tangerang Selatan dan Kejaksaan Negeri Kabupaten Tangerang juga diminta merehabilitasi nama baik Tajudin.

Jatuh bangun upaya Tajudin mencari keadilan untuk dirinya

Sebelum mendaftarkan gugatannya, Tajudin sempat berupaya keras mencari keadilan bagi dirinya lantaran ia merasa tidak bersalah. Ia harus rela bolak-balik Bandung-Jakarta-Tangsel sambil berkoordinasi dengan tim hukumnya dari LBH Keadilan selama menunggu proses kasasi di MA, menawarkan cobek ke lingkungan Mapolres Tangsel, hingga mencoba menjual cobek ke Wali Kota Tangerang Selatan (Tangsel) Airin Rachmi Diany.

Sosok ayah yang menjadi tulang punggung keluarganya

Tajudin bukanlah orang berpangkat yang berpendidikan tinggi. Dia hanyalah seorang ayah bagi anak-anaknya dan tulang punggung untuk keluarganya. Di tengah perjuangannya berjualan cobek, ia berharap agar kelak buah hatinya bisa bersekolah setinggi-tingginya. Tak heran jika mereka begitu terpukul saat Tajudin di tahan karena tuduhan mengeksploitasi anak.

Tajudin dibebaskan dari segala tuduhan yang ada oleh PN Tangerang pada 12 Januari 2017 dan baru dibebaskan dari Rutan Tangerang tanggal 14 Januari 2017. Menurut pihaknya, apa yang dilakukan Tajudin bukan sebagai bentuk eksploitasi anak, melainkan niatnya semata-mata hanya ingin membantu mereka untuk bekerja mencari nafkah. Sayang, Tajudin terlanjur jadi korban aksi salah tangkap yang membuatnya dipenjara sia-sia.

Belum ada Komentar untuk "Kisah Tukang Cobek yang Gugat Polisi Rp1 Miliar karena jadi Korban Salah Tangkap"

Posting Komentar

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel