Mengagetkan! Danu Kini Terancam 9 Bulan Penjara Gara-Gara Tindakannya dalam Kasus Subang


Babak baru kasus Subang sedang menanti Muhammad Ramdanu alias Danu.

Danu kini terancam pidana gara-gara tindakannya membersihkan tempat kejadian perkara atau TKP.

Tak main-main, Danu terancam 9 bulan penjara jika polisi menilai TKP yang dia bersihkan masih dibutuhkan untuk mencari barang bukti.

Dalam KUH Pidana memang diatur soal menghilangkan barang bukti sebagai tindakan pidana.

Danu sendiri merupakan keponakan Tuti Suhartini, korban meninggal kasus pembunuhan ibu dan anak di subang, 18 Agustus silam.

Mengenai kasus perampasan nyawa ibu dan anak ini, Danu masih berstatus sebagai saksi.

Terakhir dia dipanggil ke kantor polisi untuk dimintai keterangan, Senin (1/11/2021).

Danu sendiri sudah mengakui kalau dia memasuki TKP dan membersihkan bak kamar mandi.

Namun, dalam pengakuannya Danu menegaskan bahwa tindakannya itu karena diperintahkan seorang Banpol atau orang yang biasa membantu polisi.

Lalu, siapa yang menyuruh Banpol tersebut membersihkan TKP? inisiatif atau ada yang menyuruh?

Hingga kini belum diketahui jawabannya dari polisi.

TKP kasus Subang itu sendiri dipasangi garis polisi. Namun Danu menerobos garis polisi tersebut dan berada di dalam rumah.

Kejadian itu berawal saat sehari setelah kejadian, 19 Agustus atau saat dimana TKP masih segar karena baru sehari setelah kejadian penemuan mayat Amalia dan Tuti.

Saat itu, Danu diminta Yoris, anak Tuti memantau lokasi kejadian di sekitar SMA di Jalan Cagak.

Namun, Danu melihat seseorang pria yang sehari-hari bertugas di Polsek Jalan Cagak menghampiri TKP dan langsung menghampiri Danu.

Pria tersebut ternyata petugas dari Banpol atau Bantuan Polisi yang menyuruh Danu membersihkan bak mandi yang berada di TKP.

Hal tersebut dijelaskan kuasa hukum Danu, Achmad Taufan, dikutip Tribunjabar.id dari tayangan Heri Susanto (31/10/2021).

Sebagai bukti, Danu bahkan sempat mengambil foto oknum yang masuk ke TKP tersebut.

“Sempet foto juga Danu, foto oknumnya dan menghampiri beliau gitu,” ujarnya.

Dari keterangan Danu, oknum tersebut membuka pintu dengan kunci yang dibawanya. Dari keterangan yang disampaikan, kuasa hukum mengatakan Danu mengenal oknum tersebut.

“Kalau dalam pernyataan Danu tadi mengenal ya,” ungkap Achmad Taufan.

Ia pun meminta polisi membongkar mengenai siapa yang mengajak Danu masuk ke TKP dan menyuruh membersihkan TKP.

Tindakan Danu dan Banpol yang memasuki TKP kasus perampasan nyawa Amalia Mustika Ratu dan Tuti yang masih dibutuhkan polisi dalam mencari barang bukti, bisa jadi pidana.

Jika tujuan memasuki TKP tersebut untuk menghilangkan barang bukti.

KUH Pidana mengkategorikan menghilangkan barang bukti sebagai tindak pidana, seperti diatur di Pasal 221 ayat 2 KUH Pidana.

Hanya saja, sejauh ini, polisi belum berkomentar soal langkah hukum yang akan dilakukan pada Danu dan petugas banpol tersebut yang nekat memasuki TKP.

Sebelumnya, selama dua hari berturut-turut Danu menjalani pemeriksaan tambahan selama masing-masing delapan jam pada Kamis (28/10/2021) dan Jumat (29/10/2021).

Pada pemeriksaan Kamis pekan lalu Bareskrim Mabes Polri, Badan Intelijen Negara (BIN) serta Forensik Polri juga turut hadir.

Sudah berjalan 77 hari kasus kematian dari Tuti serta Amalia masih juga belum terungkap siapa pelakunya.

Sejauh ini, pihak kepolisian sudah memeriksa 54 saksi agar dapat petunjuk dari kasus yang sudah menjadi sorotan publik tersebut.


Polisi masih menyelidiki kasus pembunuhan ibu dan anak di Subang belum terungkap hingga kini. Polisi justru menyebut ada keterangan saksi yang kerap berubah.

"Kembali lagi dalam pemeriksaan. Masih dilakukan oleh Polres Subang. Karena ada beberapa informasi yang berubah dari keterangan saksi," ucap Kabid Humas Polda Jabar Kombes Erdi A Chaniago kepada wartawan saat ditemui di Graha Bhayangkari, Jalan Cicendo, Kota Bandung, Selasa (2/11/2021).

Erdi menjelaskan perubahan-perubahan ini bukan berarti keterangan dari satu saksi berubah-ubah. Namun, kata dia, ada beberapa keterangan yang ditambahkan.

"Perubahan ini bukan berarti seorang memberikan keterangan berubah, tapi ada kalanya dia melihat sesuatu tidak fokus. Misalnya contoh dia (saksi) melihat ada helm, dikatakan warna apa dan sebagainya. Nah, ini masih dipertanyakan, kemudian melihat ada beberapa kendaraan yang lewat, ini harus disesuaikan dengan petunjuk-petunjuk, penyidik tidak boleh gegabah dalam melakukan penyidikan berdasarkan keterangan saksi-saksi," kata Erdi.

Erdi mengatakan proses pemeriksaan saksi-saksi masih terus dilakukan. Polisi juga masih mendalami dari hasil keterangan-keterangan saksi yang diperiksa.

"Tentunya ini akan diupayakan untuk mencari kesesuaian, jadi mohon bersabar Polres Subang masih bekerja mencari bukti-bukti dan kesesuaian dengan petunjuk serta keterangan saksi," kata dia.

Baca artikel detiknews, "Kasus Pembunuhan Ibu-Anak Subang Belum Terungkap, Polisi: Mohon Sabar" selengkapnya https://news.detik.com/berita-jawa-barat/d-5793168/kasus-pembunuhan-ibu-anak-subang-belum-terungkap-polisi-mohon-sabar.



Di Sisi lain KEHADIRAN BIN, Apakah Presiden Jokowi Turun Tangan dalam Pengungkapan Pembunuh Ibu dan Anak di Subang?

Ada yang menarik perhatian saat penyidik di Polres Subang kembali memeriksa Danu dalam pengungkapan kasus pembunuh ibu dan anak di Subang, pada Kamis 28 Oktober dan Jumat 29 Oktober 2021.

Dalam pemeriksaan tersebut hadir 2 perwakilan penting yakni ahli Forensik dari Bareskrim Mabes Polri, dr. Summy Hastry, dan perwakilan dari Badan Intelijen Negara atau BIN.

Apakah ini berarti Presiden Jokowi turun tangan langsung dalam pengungkapan pembunuh ibu dan anak di Subang, mengingat BIN langsung diketuai presiden dalam setahun terakhir.

Hal itu dikemukakan Anjas dalam analisa kasus pembunuh ibu dan anak di Subang, dalam kanal Youtube analisa Anjas di Thailand, yang tayang pada Minggu 31 Oktober 2021.

“Seperti diketahui BIN adalah lembaga yang diketuai langsung presidn sejak setahun lalu. Artinya, pengguna utama adalah Presiden Jokowi sendiri,” papar Anjas.

Bagi masyarakat awam, kehadiran BIN dalam pengungkapan pelaku pembunuh ibu dan anak di Subang, tentu menarik untuk dipertanyakan.

“Apakah sebegitu gentingnya hingga urusan negara sampai berhubungan dengan pengungkapan kasus ini,” tutur Anjas.



Meski kuasa hukum Danu yakni Achmad Taufan, sebelumnya mengemukakan, baik Summy Hastry maupun BIN tidak ikut memeriksa Danu saat dilakukan pemeriksaan oleh penyidik.

Namun, menurut analisa Anjas, bukan berarti tidak ada peranan dari mereka. Bisa saja mereka tidak melakuan pemeriksaan secara langsung dengan meminta keterangan kepada Danu, namun bisa saja baik Summy Hastry maupun BIN bertanya ke penyidik.

Khususnya kehadiran BIN dalam pemeriksaan Danu, kehadiran dr. Summy Hastry  bagi masyarakat awam tentulah tidak akan berpikir aneh-aneh, karena dia pakar forensic yang ikut melakukan otopsi kedua jasad korban Tuti dan Amel pada 2 Oktober lalu.

Mungkin kehadiran Summy Hastry kali ini, menurut Anjas, mungkin ada pengambulan DNA kepada Danu dan Yoris. Atau mungkin ada beberapa keterangan yang harus diambil secara langsung kepada tim penyidik, yang sifatnya teknis.

“Sebab, hasil otopsi tidak akan bermakna apapun tanpa ditunjang dengan fakta-fakta atau hasil pemeriksaan tim penyidik,” ujar Anjas.

Analisa kehadiran BIN

Kehadiran perwakilan BIN dalam kasus ini jadi bahan pertanyaan apakah kasus pembunuh ibu dan anak di Subang tersebut sedemikian ribet sehingga butuh kehadiran  BIN.

Sesuai Kepres RI no 90 tahun 2012 pasal 9 menyebutkan bahwa fungsi BIN adalah penyelenggaraan penyelidikan, pengamanan, dan penggalangan di dalam negeri dan luar negeri. BIN dengan CIA levelnya sama.

“Kenapa BIN datang dalam kasus ini, mungkin dibutuhkan untuk kemampuan analitik mereka dan pengalaman untuk menyampaikan informasi baik dalam negeri dan luar negeri kepada presiden,” tutur Anjas.

“Prinsip intelejen adalah apa yang terlihat belum tentu benar, dan apa yang ditunjukkan belum tentu itu yang sebenarnya. Dan apa yang tidak ada, belum tentu itu tidak ada,” paparnya.

Dalam pengungkapan pelaku pembunh ibu dan anak di Subang, sekitar 50 saksi sudah diperiksa, otopsi sudah dilakukan 2 kali dan barang bukti, tetapi mengapa belum bisa menemukan 2 alat bukti untuk menetapkan tersangka.

“Mungkin inilah mengapa dibutuhkan BIN dengan kemampuan analitiknya,” paparnya.***

Belum ada Komentar untuk "Mengagetkan! Danu Kini Terancam 9 Bulan Penjara Gara-Gara Tindakannya dalam Kasus Subang"

Posting Komentar

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel