Alhamdulilah!! Danu Akhirnya Mengaku Usai Diperiksa Polisi dua Kali


Kuasa hukum Muhammad Ramdhanu atau Danu, Achmad Taufan Soedirjo menjelaskan, terkait informasi kasus Subang terbaru.

Menurutnya, saksi kunci kasus Subang yang menewaskan ibu dan anak yakni Danu mengaku soal Tempat Kejadian Perkara (TKP) pembunuhan usai diperiksa dua kali oleh pihak kepolisian.

Menurutnya, kliennya itu akhirnya mengaku beberapa saat setelah pembunuhan, dia masuk ke TKP kasus Subang tersebut dan membersihkan sejumlah benda yang terkena tetesan darah.

“(Danu) masuk ke TKP, betul. Danu masuk ke dalam rumah, masuk ke TKP dan membersihkan bak. Namun, kita ikut bersyukur, karena ini case yang harus kita bongkar,” ujar Achmad Taufan, 

Achmad mengatakan, pengakuan Danu tersebut bisa dijadikan petunjuk baru bagi polisi untuk menemukan siapa pembunuh sebenarnya ibu dan anak yang menjadi korban kasus itu.

“Sehingga menurut kami, kejadian Danu membersihkan bak, harus diusut tuntas. Makanya, saya bersyukur, hari ini lebih berfokus di situ,” tuturnya.

Achmad Taufan pun mengungkapkan kembali pengakuan Danu. Menurut sepupu Amel itu, dia masuk ke TKP bukan atas kemauannya sendiri melainkan ada orang lain yang memerintahnya.

Ketika itu, kata Achmad, Danu mengira sosok tersebut merupakan polisi yang ingin mengusut kasus Subang tersebut.

“Tadi, dalam pemeriksaan, Danu menyampaikan kronologisnya secara tegas. Mengapa Danu masuk ke TKP, karena Danu melihat ada seseorang masuk ke TKP, lalu difoto juga,” ungkap Achmad.

Sebelumnya, Danu menyampaikan kesaksian bahwa sesaat setelah pembunuhan ada sosok terduga polisi yang menyuruhnya masuk ke TKP kasus Subang itu. Namun, kesaksiannya itu dibantah oleh pihak kepolisian.

Terkait hal itu, Achmad Taufan pun beralasan bahwa Danu merupakan sosok muda dengan pendidikan kurang tinggi.

Sehingga, menurut Achmad, kemampuan berpikir Danu tak sama dengan orang-orang berpendidikan. Itulah mengapa, saksi kunci kasus Subang itu mengira orang lain tersebut adalah polisi padahal sebenarnya bukan.

“Danu melihat dan meyakini itu polisi. Orang itu kan kemampuan berpikirnya beda-beda,” ujarnya.

Sementara itu, Ini Saran Pakar Telematika Roy Suryo Agar Pelaku Bisa DITANGKAP

Berlarutnya pengungkapan kasus pembunuh ibu dan anak di Subang Jawa Barat mendorong pakar telematika dan informatika Roy Suryo angkat bicara.

Dalam wawancaranya dengan wartawan, Roy Suryo mengatakan, di balik apresiasi kepada aparat dan para ahli yang telah dilibatkan dalam pengungkapan kasus pembunuh ibu dan anak di Subang, dirinya mengaku merasa gemas.

“Gemes juga kenapa kasus pembunuhan yang jasadnya dimasukkan dalam Alphard itu belum kelar-kelar juga. Padahal sudah hampir 3 bulan”, ujarnya.

Roy Suryo memaklumi soal kendala yang dihadapi kepolisian sehingga mengakibatkan berlarutnya kasus pembunuh ibu dan anak di Subang, yakni tidak adanya saksi langsung dan rekaman CCTV yang biasanya dapat membantu mempercepat penyidikan.

“Kebetulan posisi rumah dan carport mobil berada di lokasi yang sekelilingnya tidak banyak CCTV lain yang bisa digunakan untuk mendukungnya”, ujar Roy Suryo.

Namun begitu, mantan Menpora di era Presiden SBY ini mengungkapkan, pembunuhan (umumnya) terjadi karena ada modus dan keterlibatan orang dekat atau ‘inner circle’ keluarga korban.

“Apalagi jika terdapat Indikasi konflik internal atau masalah pribadi masing-masing  pihak. Entah itu antara suami dengan istri, dengan saudara, mantan suami, mantan istri dan sebagainya”, tutur Roy Suryo seraya menjelaskan, apa yang dikatakannya itu tidak bermaksud menjustifikasi.

Agar kasus pembunuh ibu dan anak di Subang cepat terungkap dan pelaku bisa ditangkap, Roy Suryo menyarankan agar  lebih memaksimalkan lagi  teknologi yang ada.

“Misalnya pembacaan CDRI (Call Data Record Information) dari nama-nama yang saya sebut di atas. Pra, saat dan pasca kejadian, dengan tentang waktu seminggu bahkan sebulan sebelum dan sesudahnya”, saran Roy Suryo.

Hal yang sama, kata Roy Suryo, dilakukan juga pada rekaman-rekaman CCTV seputar lokasi, termasuk milik  pemda dan toko-toko, rumah sekitar lokasi kejadian, dengan rentang waktu sebelum dan sesudah Hari-H (kejadian).

“Cermati apakah ada tanda-tanda mencurigakan, anomali dari orang-orang, mobil-mobil, kendaraan-kendaraan yang  frekuensi munculnya lebih dari sekali”, ujarnya.

Polisi hingga kini masih mencoba mengungkap meninggalnya Tuti Suhartini (55) dan Amalia Mustika Ratu (23).

Ibu dan anak ini meninggal di rumahnya di Jalancagak, Kabupaten Subang.

Keduanya ditemukan di dalam bagasi mobil Alphard di rumahnya.

Peristiwa ini kemudian dikenal dengan kasus Subang.

Belum ada Komentar untuk "Alhamdulilah!! Danu Akhirnya Mengaku Usai Diperiksa Polisi dua Kali"

Posting Komentar

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel