Wanita Yang Bekerja Sebagai Kurir ini Rela Menyisihkan Sebagian Penghasilannya, untuk Berbagi Terhadap Sesama di Tengah Pandemi

 


Seorang Wanita bernama Risma Sakir (36 Tahun), warga Desa Tapango, Kecamatan Tapango, Kabupaten Polewali Mandar. Risma yang hanya berprofesi sebagai seorang kurir, rela menyisihkan sebagian penghasilannya, untuk berbagi terhadap sesama.

Gerakan kemanusiaan yang telah dilakukannya sejak dua tahun terakhir, menjadi pendorong bagi warga lainnya di daerah ini, untuk melakukan kegiatan serupa.

“Berawal dari rasa keprihatinan, ketika melihat postingan di media sosial soal warga yang butuh bantuan. Saya merasa terpanggil, akhirnya saya mulai menyisihkan sebagian penghasilan, untuk saya gunakan membantu warga yang membutuhkan,” kata Risma kepada wartawan, Minggu (4/10/20).

Menggunakan sepeda motor, Risma menjangkau hampir semua pedalaman di daerah ini, tidak sekedar melaksanakan kewajiban sebagai kurir yang mengantar pesanan warga hingga ke tempat tujuan, tetapi juga untuk membawa bantuan buat warga.

Tidak peduli jarak yang ditempuh, cuaca yang harus dilalui, siang maupun malam, pekerjaan sebagai kurir dilakukan Risma dengan penuh tanggung jawab. Selain agar mendapatkan uang untuk memenuhi kebutuhan hari-hari, demi memberi secercah senyum buat mereka yang membutuhkan uluran tangan.

Selain memberi bantuan langsung, Risma juga mencoba memberdayakan para ibu rumah tangga, khususnya mereka yang berusia lanjut dan hidup dalam kondisi kekurangan, agar dapat terus produktif untuk menopang kehidupan sehari-hari, khususnya di masa pandemi virus corona.

Seperti yang sejak beberapa bulan terakhir dilakukan di Dusun Landi, Desa Baru, Kecamatan Luyo. Daerah ini sengaja dipilih, lantaran hampir semua warganya masih hidup dalam kondisi terbatas.

“Pertama masuk ke daerah ini, awalnya saya antar barang, ngurir. Saya heran melihat banyaknya warga masih hidup dalam kondisi kekurangan, kendati di sini banyak potensi. Saya merasa penasaran, hingga terpanggil untuk membantu warga,” ujar ibu dua anak ini.

Diakui Risma, awalnya tidak mudah baginya, untuk mengedukasi warga di daerah ini untuk berbuat dan mau memaksimalkan potensi yang ada di desanya. Banyak yang meragukan, bahkan tidak sedikit diantaranya yang memilih tidak peduli.

“Akhirnya saya pinjam pekarangan, saya bergerak sendiri. Awalnya mereka (warga) hanya menonton, melihat saya bergerak, bercocok tanam, akhirnya ketika 80 persen sudah jadi, satu dua orang mulai tertarik sambil bertanya-tanya, dan alhamdulillah pemerintah bersama ibu PKK juga memberikan bantuan, hingga akhirnya banyak yang ikut bergerak, ” ungkapnya.

Selain melatih warga bercocok tanam kebutuhan sehari-hari, memanfaatkan pekarangan rumah, Risma juga mencoba meningkatkan pendapatan warga setempat dengan budidaya ikan lele dan nila.

“Saya juga mencoba memberikan bantuan budidaya ikan, memberikan terpal (untuk kolam) dan bibit ikan. Saya ingin memberdayakan, kita berikan edukasi agar nantinya mereka bisa mandiri. Di samping itu, tidak menutup kemungkinan warga yang kita berdayakan, bisa memberikan bantuan orang lain dengan budidaya ikannya,” tuturnya.

Lanjut kata Risma, dirinya juga mencoba melatih para ibu rumah tangga, untuk membuat kerajinan gantungan pot bunga. “Yang kedua saya lakukan untuk menambah penghasilan ibu-ibu, saya melatih membuat keterampilan gantungan pot dari tali nilon. Alhamdulillah hasilnya cukup menjanjikan. Apalagi kerajinan ini cukup mudah dibuat dan diminati banyak warga,” ucapnya.

Tidak hanya itu, Risma yang juga berprofesi sebagai guru sukarela salah satu sekolah di daerah ini. Dia meluangkan waktunya untuk memberikan pelajaran tambahan, bagi anak usia sekolah di dusun ini, yang sejak masa pandemi kesulitan mengikuti proses belajar mengajar.

“Saya juga mencoba mengajarkan mereka seni, memberikan motivasi agar mereka bersemangat, dan memiliki raya kepercayaan diri, bahwa mereka juga bisa seperti anak yang lainnya, kendati tinggal di daerah pedalaman,” katanya.

Risma mengaku bersyukur, lantaran aktifitas sosial yang dilakukannya, didukung keluarga. Apalagi, tidak jarang dirinya nyaris menjadi korban pembegalan lantaran harus pulang di malam hari.

“Kalau tantangan sebenarnya banyak, khususnya dari anak yang protes karena saya selalu telat pulang, ini persoalan karena waktu saya buat mereka kurang, tapi lambat laun akhirnya mereka mengerti. Kadang juga ada bahaya di jalan ketika pulang malam, pernah nyaris jadi korban begal, hampir jatuh dari motor karena hp (handphone) ketarik,” jelasnya.

Salah seorang warga bernama Nahda mengaku bersyukur. Kehadiran Risma yang diketahui berprofesi sebagai kurir, memberi banyak manfaat, khususnya dalam penguatan ekonomi warga.

“Bermanfaat sekali, apalagi sejak ada Ibu Risma yang memberi kami sejumlah pelatihan, kami mampu memenuhi kebutuhan sehari-hari, khususnya buat beli susu anak,” kata Nahda.

Hal serupa disampaikan Kepala Dusun Landi Baharuddin. Dia mengaku kehadiran Risma, memberi banyak perubahan bagi warga di desanya. “Luar biasa sekali, sejak ada ibu Risma banyak perubahan di dusun kami. Dia suka membantu, dia juga melakukan kegiatan pemberdayaan buat ibu-ibu, dilatih lebih produktif, bantu juga anak sekolah,” ujarnya.

Sumber: Detik.com

Belum ada Komentar untuk "Wanita Yang Bekerja Sebagai Kurir ini Rela Menyisihkan Sebagian Penghasilannya, untuk Berbagi Terhadap Sesama di Tengah Pandemi"

Posting Komentar

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel