RS Ibnu Sina Bantah Meng-COVID-kan Pasien, Kami Nyatakan Suspect, Bukan Positif COVID-19

 


Wakil Direktur Pelayanan Medik RS Islam Ibnu Sina Pekanbaru, dr. Rifa, membantah bahwa pihaknya telah men-COVID-kan pasien atas nama Wirsamsiwati, yang meninggal dunia pada tanggal 28 Agustus di RS Islam Ibnu Sina Pekanbaru.

Rifa mengatakan, pada tanggal 26 Agustus, terjadi perubahan kondisi pada pasien, di mana katanya, pasien mengalami sesak, batuk, dan demam.

"Tanggal 21 sampai 26 (Agustus) dirawat oleh dokter penyakit dalam. Kemudian dikonsul ke dokter paru kami. Ada pneumoni di sana. Jadi, adik pasien ini, sebagian besar, confirmed. Dan mereka tinggal bersebelahan. Dengan itulah kami mengarah kepada suspek covid," katanya, dalam acara Indonesia Lawyers Club, Selasa malam (6/10/2020).

Terkait pemakaman jenazah yang dimakamkan sesuai protokol COVID-19 padahal pasien negatif COVID-19 berdasarkan hasil swab test sebanyak dua kali, Rifa bilang kalau keluarga pasien sudah menandatangani surat pernyataan sebelum pasien dirawat di ruang COVID pada tanggal 26 Agustus. Surat itu, kata dia, harus dipahami betul-betul oleh keluarga pasien sebelum ditandatangani.

"Tanggal 28 jam 23.15 pasien dinyatakan meninggal dunia. Waktu itu sampe belum keluar, baik sampel 1 maupun sampel 2. Kita juga membuat surat pernyataan sebelum masuk ruang covid yang harus dipahami betul oleh keluarga pasien, yang salah satunya menyatakan bahwa jika pasien ini suspect atau probable meninggal di ruang COVID sebelum hasil swab keluar, atau hasil swab postifi (Confirmed), maka pasien harus dikuburkan secara covid, dan itu sudah ditandatangani oleh keluarga pasien. Malam itu kami sudah menyarankan untuk dimakamkan secara covid. Tapi keluarga pasien menolak, mereka mau liat hasil swab-nya dulu," katanya.

Saat ditanya oleh Karni soal mengapa pasien dipublikasikan sebagai pasien COVID-19, Rifa mengaku pihaknya sudah menuliskan data dengan benar di dalam grup WhatsApp yang beranggotakan seluruh jajaran rumah sakit yang ada di Provinsi Riau.

"RS hanya punya satu pintu masuk memberikan data, yaitu lewat grup itu tadi saja. Dan di grup itu kami sudah menuliskan data dengan benar. Hanya itu yang bisa saya jawab," katanya.

Sebelumnya diberitakan,keluarga pasien meninggal dunia di RS Islam Ibnu Sina Kota Pekanbaru, Riau, tidak terima karena almarhum ibu mereka diduga di-COVID-kan oleh pihak rumah sakit.

Wince Oktivia, anak dari almarhumah Wirsamsiwati, membeberkan fakta itu dalam acara Indonesia Lawyers Club, Selasa malam (6/10/2020).

Wince menceritakan, ibunya masuk ke RS Islam Ibnu Sina Pekanbaru pada 21 Agustus 2020. Awalnya, ibunya dibilang gagal ginjal dan harus menjalani cuci darah.

"(Kasus peng-COVID-an pasien) Itu terjadi pada ibu kami. Waktu masuk RS pingsan. Karena paru-parunya bagus, jadi masuk ruang biasa, bukan ruang isolasi. Karena HB-nya rendah, jadi harus transfusi darah. Besoknya, HB ibu saya tidak naik dan sel darah merahnya tidak bertambah. Jadi dokter bilang ibu saya gagal ginjal. Lalu dibilang ibu saya harus cuci darah. Belum selesai cuci darah, ibu saya gak bisa lagi, karena kata mereka darahnya beku. Karena lambungnya kena," katanya.

Setelah menjalani cuci darah yang tidak tuntas, ibunda Wince lantas dikatakan terindikasi terkena COVID-19.

"Setelah itu, kata mereka di parunya ada penyumbatan dan ada bercak-bercak. Katanya indikasinya udah covid. Terus kami dipanggil untuk menandatangani surat untuk diisolasi. Itu pagi, diisolasinya sore. Terus saya telepon, karena saya (keluarga) tidak boleh menemani lagi) kapan ibu saya di-swab? Malam, kata mereka," katanya.

Padahal, sebelum meninggal dunia, ibunda Wince dinyatakan negatif COVID-19 berdasarkan hasil tes swab di rumah sakit tersebut.

"Setelah ibu saya divonis COVID. Tanggal 28 sore ibu dicuci darah lagi. Setelah itu ibu koma. Sampai malam jam 23.15 menghembuskan napas terakhir. Sebelum menghembuskan napas, udah keluar hasil COVID negatif," katanya.

Karena negatif COVID, Wince dan keluarga lantas meminta almarhum ibunya dimakamkan secara normal. Namun pihak RS tidak mengizinkan. Sebaliknya, pihak rumah sakit meminta Wince dan keluarganya sabar menunggu hasil tes swab yang kedua.

"Kami kan keluarga ingin ibu pulang, dimakamkan secara biasa. Tapi RS tidak mengizinkan. Tunggu swab kedua, kata mereka. Sementara itu meninggal jam 8 malam.  Kata mereka hasil swab kedua besok pagi udah keluar. Rupanya sampe besok sorenya enggak juga keluar. Akhirnya kata RS, keluarnya jam 9 malam. Kan udah lama kali jenazahnya gak dikubur. Jadi kami keluarga rembuk, ya udahlah, gak apa-apa ibu dimakamkan sesuai prosedur RS. Setelah dimakamkan, pas jam 9 malam, keluar hasil swab kedua, negatif. Ya udah, kami keluarga terima," katanya.

Namun yang membuatnya terkejut, dua hari setelah ibunya meninggal, beredar berita di koran dan media online yang menyatakan ada seorang pasien berinisial W, usia 62 tahun, meninggal dunia positif COVID di RS Islam Ibnu Sina. Setelah ditelusuri oleh adik iparnya ke Dinas Kesehatan dan RS Islam Ibnu Sina, pasien berinisial W yang ditulis di media massa itu ternyata benar almarhum ibu mereka, Wirsamsiwati. Dan di situlah mereka tak terima.

"Setelah itu, tanggal 30, beredar di media online, bahwa ibu saya positf COVID. Adik ipar saya mengungapkan fakta-faktanya," kata Wince.

Meneruskan kisah yang disampaikan Wince, Zulkardi, adik iparnya, meradang saat menceritakan bagaimana pihak rumah sakit memanipulasi data kematian mertuanya.

"Padahal ini kami 66 tahun. Di sini nampak memanipulasi. Memalsukan data keluarga kami, agar kami tidak peraya itu keluarga kami. Dibuat di media itu warga Rumbai, Kelurahan Umbansari, Kota Pekanbaru. Meninggal di Ibnu Sina. Positif Corona," kata Zulkardi.

Akibat diberitakan di media kalau almarhum ibu mereka positif COVID, tidak ada warga dan kerabat yang datang untuk takziah (mendoakan).

"Tanggal 1 September, saya datangi Dinas Kesehatan Kota Pekanbaru. Saya dibawa masuk ke ruangan data input COVID-19. Inisial W itu siapa. Wirsamsiwati. Terkejut saya. Gara-gara itu gak ada yang takziah untuk almarhum ibu saya," katanya.

Ketika ditanyakan ke pihak Dinas Kesehatan soal dari mana mendapat data kalau almarhum ibunya potitif COVID, petugas Dinkes menjawab kalau data itu diterima dari RS Islam Ibnu Sina.

"Lalu saya ke RS Ibnu Sina dengan keluarga, mediasi. Waktu itu ada humasnya Ibu Sina.  Saya tanya, 'Kenapa keluarga saya kalian laporkan positif Corona?' Dia kebingungan. Alibinya, Dinas Kesehatan salah menginput," katanya, sambil menegaskan kalau ia memiliki bukti rekaman suara percakapan dengan pihak RS Ibnu Sina.

Selain usia dan status COVID, kepalsuan data juga menyangkut tanggal kematian ibu mereka, yang ditulis tanggal 26.

"Kita lihat dari data di Dinas Kesehatan, dibuat orangtua saya meninggal di Ibnu Sina tanggal 26 di sini. Padahal bukan tanggal 26, tanggal 28 (Agustus)!" Ada apa?" katanya.

Tak cuma itu, dalam laporan juga dituliskan kalau pasien dikuburkan tanggal 30 di pemakaman pasien COVID-19 dan disaksikan oleh Zulkardi. 

"Selain itu, dimumumkan kalau keluarga saya dimakamkan tanggal 30. Lalu saya langsung ke kuburan korona itu.  Saya tanya sama orang gali kuburan, 'Pak, benar gak keluarga saya Wirsamsiwati ada meninggal dikuburkan di sini? Tidak ada. Dan petugas itu membuat surat pernyataan (bermaterai)," sambungnya.

Ketika akhirnya pihak rumah sakit mengakui kesalahan mereka, proses pemindahan jenazah ke TPU umum pun masih juga diulur-ulur.

"Di situ saya via telepon dengan Direktur RS. 'Oke akan saya upayakan pemindahan keluarga Dinda,' katanya. 'Tapi saya koordinasi dulu dengan Dinas Perkim Kota Pekanbaru.' Terus diulur-ulur pemindahan alm keluarga saya. Sampai humasnya mengatakan, oh gak bisa, gini gini gini," kata Zulkardi.

Atas kasus ini, Zulkardi berharap tidak ada lagi rumah sakit yang melakukan manipulasi data seperti yang menimpa keluarganya.

"Cukup lah keluarga kami yang diperlakukan seperti ini. Saya tidak ingin ada keluarga lain yang diperlakukan begini," katanya.

Sumber indozone.id

Belum ada Komentar untuk "RS Ibnu Sina Bantah Meng-COVID-kan Pasien, Kami Nyatakan Suspect, Bukan Positif COVID-19"

Posting Komentar

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel