Tak Hanya Jalan Kaki 6 Jam, Kakek Penjual Tampah Ini Harus Lewati Hutan Demi Jajakan Dagangannya - Kabar Aljazeera

Tak Hanya Jalan Kaki 6 Jam, Kakek Penjual Tampah Ini Harus Lewati Hutan Demi Jajakan Dagangannya

 


Meski banyak orang yang mengtakan bila masa tua adalah masa dimana kita beristirahat, hal ini nampaknya berbeda bagi seorang kakek berusia 75 tahun yang akrab disapa Mbah Budiono.

Di masa senjanya, beliau masih tetap semangat menganyam dan menjajakan tampah buatannya demi bisa memenuhi kebutuhan sehari-hari. Setiap harinya, Mbah Budiono harus keluar masuk hutan untuk menjajakan dagangannya.

Melansir dari akun itu, Mbah Budiono sehari-harinya merupakan seorang pengrajin tampah anyaman bambu. Dari mulai membeli, menebang, sampai menganyam bambu hingga menjadi tampah beliau lakukan seorang sendiri.

Mbah Budiono juga harus menempuh jarak 4 kilometer bahkan lebih dengan jalur keluar masuk hutan untuk bisa menjual tampah buatannya.

Biasanya, Mbah akan berangkat jam 12 siang dan tiba di tempat biasa beliau berjualan jam 6 sore dengan membawa tampah dagangannya di atas kepala.

Penghasilan Tak Menentu

Salah satu tantangan beliau yakni saat hujan tiba. Pasalnya, tampah yang basah akan semakin berat untuk dibawa. Selain itu, bila Mbah Budiono sakit di tengah perjalanan, terpaksa beliau akan menjual dagangannya ke pengepul dengan harga yang lebih murah.

Penghasilan beliau juga nggak menentu. Biasanya, Mbah Budiono mendapat penghasilan Rp. 170 ribu per minggu. Belum lagi bila beliau pulang kemalaman. Mbah Budiono tak berani pulang dan terpaksa menginap di teras warung-warung yang ada.

View this post on Instagram

Ketika pandangan sudah tak lagi mengarah dunia, dan harapan pun kini tak jauh di simpan. Mbah Budiono lansia berumur 75 tahun yang tinggal di Gunung Micil Rt03 Rw01 Kebon Sari Borobudur Magelang Jawa Tengah. Beliau adalah seorang pengrajin tedo eblek atau tampah anyaman bambu. Beliau membeli, menebang dan memikul bambu tersebut sampai ke rumah. Bukan pekerjaan mudah, selain berat, bambu juga tajam. Meski dengan tenaga dan mata tua namun beliau masih lincah membelah membersihkan dan menganyam bambu menjadi tedo eblek. Untuk menjual Mbah harus menempuh jarak 4 kilometer atau lebih, dengan jalur keluar masuk hutan. Mbah menjunjung tedo eblek tersebut diatas kepala beliau. Dengan tenaga yang melemah dan kaki yang menua, mbah akan sampai pada tempat beliau biasa berjualan sekitar jam 6 sore setelah berangkat dari rumah jam 12 siang. Jika hujan maka akan semakin berat bagi mbah, selain jalur yang ditempuh menjadi sulit juga karena beban tedo eblek yang basah lebih berat. Jika Mbah merasa sakit diperjalanan terpaksa beliau jual ke pengepul dengan harga lebih rendah. Penghasilan beliau pun tak menentu sekitar 170 ribu per minggu nya. Jika kemalaman Mbah tak berani pulang, beliau terpaksa menginap di teras warung warung yang ada. Mbah pernah memaksakan pulang dan diperjalanan dihadang kumpulan babi hutan, pengalaman tersebut yang membuat beliau lebih berhati hati. Meski keadaan beliau kekurangan dan mesti berhutang namun tak membatasi Mbah Budiono untuk berbuat baik, beliau pernah mengurus tetangga yang sakit stroke, membersihkan, memberi makan dengan menyuapinya. Dan tak ada yang beliau harapkan selain ganjaran dari Allah Subhanahu'Wa Ta'ala. Marilah teman teman kita bantu Mbah Budiono agar beliau bisa mengecap sebentar indahnya masa tua. . Salurkan donasi terbaikmu melalui . Bank Mandiri Syariah (BSM) : 7770800808 Kode bank : 451 A/N : PARTNER IN GOODNESS (PING) Whatsapp : 085694390941 . . . #bantumbahbudiono #dhuafa #lansia #gunungmicil #borobudur #magelang #jawatengah #partnersingoodness #partners_in_goodness #PING #ping . @partners_in_goodness

A post shared by 🇮🇩 PING (@partners_in_goodness) on

Pernah beliau memaksa pulang dan di perjalanan dihadang oleh kumpulan babi hutan. Hal ini akhirnya yang membuat beliau lebih berhati-hati mulai sekarang. Mbah Budiono dan sang istri tinggal di Gunung Micil Rt. 03/ Rw. 01, Kebon Sari, Borobudur, Magelang, Jawa Tengah.

Meski dalam keadaan yang bisa dikatakan kekurangan, hal ini tak menyurutkan Mbah Budiono untuk berbuat kebaikan. Sebelumnya, beliau pernah mengurus salah seorang tetangga yang sakit stroke, menyuapinya makan dan membantu membersihkan tubuhnya dan beliau ikhlas melakukan itu semua tanpa mengharap imbalan.

Sangat mengharukan ya kisah dari Mbah Budiono ini. Nah, akun @partners_in_goodness juga membuka donasi lho untuk membantu Mbah. Sehat-sehat selalu ya Mbah.

0 Response to "Tak Hanya Jalan Kaki 6 Jam, Kakek Penjual Tampah Ini Harus Lewati Hutan Demi Jajakan Dagangannya"

Posting Komentar

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Bawah Artikel